[DESA PASIRAGUNG] – Suasana gembira dan syahdu menyelimuti acara khitanan putra Bapak [Ohan Rohyana] dan Ibu [Fitriani] di [Dusun Harjamukti], [19 mei 2026]. Di tengah kebahagiaan keluarga dan kerabat, acara ini semakin istimewa dengan penampilan seni tradisional Mulud Gembyung, sebuah kesenian lokal yang telah menjadi identitas budaya dan sarana syiar Islam di wilayah ini sejak turun-temurun.
Pertunjukan dimulai seiring berkumandangnya lantunan syair-syair pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Puluhan seniman dan penabuh gembyung tampil kompak mengenakan busana adat yang rapi dan bersih, menghadirkan irama musik yang khas, tenang namun berirama riang. Alunan gendang, gong, dan instrumen lainnya berpadu harmonis dengan suara para pembaca syair yang melantunkan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW serta nasihat-nasihat kehidupan yang sarat makna.
Dalam tradisi masyarakat setempat, penampilan Mulud Gembyung dalam hajatan khitanan bukan sekadar hiburan semata. Seni ini memiliki makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya ibadah khitanan, serta harapan agar anak yang dikhitan kelak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan mencintai ajaran agama, sebagaimana teladan Rasulullah SAW.
Ketua Kelompok Seni Mulud Gembyung , [Suhendra], menjelaskan bahwa kesenian ini merupakan warisan leluhur yang mengawinkan nilai budaya dengan nilai agama. "Mulud Gembyung itu media dakwah yang halus. Lewat syair dan musik, kami mengingatkan kembali tentang sejarah Islam dan ajaran baik. Di acara khitanan seperti ini, kehadiran kami menjadi doa bersama agar anak ini tumbuh berkah, sehat, dan berguna bagi nusa dan bangsa," ujarnya.
Warga dan tamu undangan tampak antusias mengikuti setiap rangkaian penampilan. Sesekali mereka ikut bersholawat dan bertepuk tangan seirama dengan iringan musik. Bagi warga setempat, melihat Mulud Gembyung tampil di acara keluarga adalah kebanggaan tersendiri, karena berarti mereka turut serta menjaga dan melestarikan budaya asli daerah agar tidak punah tergerus zaman.
Salah satu kerabat keluarga tuan rumah, [Sahirin], mengaku sangat senang masih bisa menyaksikan seni ini di tengah acara kekeluargaan. "Ini ciri khas daerah kami. Ada rasa beda dan istimewa kalau hajatan diiringi Mulud Gembyung. Selain meriah, suasananya jadi lebih sakral dan penuh doa. Semoga tradisi ini terus dijaga oleh generasi penerus," katanya.
Acara berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kehangatan kekeluargaan. Kehadiran seni Mulud Gembyung berhasil menyatukan kebahagiaan perayaan khitanan dengan nilai-nilai luhur budaya dan agama, membuktikan bahwa kearifan lokal masih relevan dan hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.



